|
Nadia Siregar Master Tarian Tradisional Papua
Nadia Siregar Master of Papuan Traditional Dance
oleh
Charles Roring
She
is a beautiful girl who is a master of traditional Papuan dance.
She has been learning traditional dance since she was in grade 3
of elementary school. Papua is unique because it has hundreds of
tribes that possess their own characteristic and culture. As a
senior member of Iriantos dance group, she and her other friends
travel around to perform traditional Papuan dances that attract
the attention of people both from inside Indonesia and abroad.
In her daily activities, she works as a presenter at a local
television station in Manokwari.
Nadia
Siregar, seorang gadis Indonesia, mulai belajar tarian
tradisional Papua pada tahun 1993 ketika ia masih duduk di kelas
3 sekolah dasar. Dia menyukai tarian karena melihat bahwa Papua
memiliki banyak suku dan setiap suku mempunyai karakteristik
budaya yang unik. "Keanekaragaman budaya tersebut sangat menarik
tetapi saya hanya ingin fokus pada tarian tradisional," katanya.
Pertunjukkan Tingkat Nasional dan Internasional
Sekarang Nadia adalah anggota Sanggar Tari IRIANTOS. Ketuanya
adalah George Wellem Yomaki. Kelompok tari tersebut memiliki 30
anggota. Bersama-sama dengan kelompok ini, Nadia telah keliling
Indonesia dan bahkan keluar negeri untuk mementaskan berbagai
tari-tarian Papua. Beberapa festival yang dia dan teman-temannya
ikuti adalah:
- Festival Seni Papua di Pulau Biak pada tahun 2002
- Festival Multi-budaya di Australia dari 14 - 18 February 2004
- Pertunjukkan tari di kota Korror Negara Kepulauan Palau pada
tahun 2004
- Pertunjukkan Teater bertemakan "Tubuh yang Terasing dan Semu"
di kota Makassar dari 10 hingga 11 Agustus 2007.
- Pertunjukkan Monolog Makkunrai Project di Gedung Societed de
Harmoni kota Makassar dalam rangka memperingati Hari Kartini
pada 1 Mei 2008
- Pawai budaya Nusantara di Jembrana Bali pada September 2008
- Deklarasi kampanye presiden dan wakil presiden SBY- Budiyono
di Monumen Proklamasi pada Februari 2009.
- Festival Media Teater Rakyat pada tingkat nasional di kota
Malang Jawa Timur 30-31 Mei 2009
- Festival Budaya Nusantara di Istana Negara Jakarta tanggal 18
Agustus 2009
Sebagai Guru Tari yang Menginspirasi Anak-anak Muda
Penampilan-penampilan Nadia di tingkat nasional dan
internasional telah menarik banyak pemuda untuk belajar tari
darinya. Mereka mengaguminya karena dia bisa mementaskan tarian
tradisional Papua meskipun dia bukan putri asli Papua. Mereka
memintanya untuk mengajari mereka menari. Beberapa diantaranya
adalah non-Papua dan sedangkan lainnya adalah putra daerah asli
Papua. Sebelum ini, hanya sedikit sekali pemuda-pemudi pendatang
yang mempelajari tarian Papua. Sekarang prestasi Nadia telah
menginspirasi banyak pemuda-pemudi Papua dan Non-Papua untuk
juga mempelajari tarian-tarian tersebut.
Di sore hari dia mengajar tarian kepada para remaja di rumahnya
dan di sekretariat Sanggar Tari IRIANTOS. " Untuk pemula, saya
mengajari mereka gerakan-gerakan dasar, gerak tubuh dan berbagai
pola tari. Sebenarnya saya telah mengajar tari sejak di sekolah
dasar. Ibuku membawaku ke pertemuan ibu-ibu di KODIM dan
memintaku mengajari mereka bagaimana menarikan tarian-tarian
Papua seperti Yospan dan Sajojo."
Pemuda-pemudi tersebut ingin seperti dirinya keliling nusantara
dan ke luar negeri untuk mementaskan tari-tarian Papua. Sebagai
hasilnya, beberapa dari mereka telah menjadi anggota sanggar
tari IRIANTOS. Sebelum ini, mereka mengira bahwa hanya
masyarakat adat Papua saja yang bisa mempelajari dan mementaskan
tarian tradisional Papua. Sekarang mereka lebih percaya diri
bahwa mereka bisa menarikannya juga.
Tanggapan dari anggota-anggota senior sanggar Tari IRIANTOS
sangatlah positif. Mereka menyambut para penari-penari baru
non-Papua tersebut.

Menyiapkan diri
untuk pertunjukkan berikutnya
Nadia dan teman-temannya pada sanggar tari IRIANTOS sedang sibuk
berlatih untuk pertunjukkan berikut. Mereka akan melakukan
pentas teatrikal pada tanggal 5 Desember 2009 memperingati hari
HIV/ AIDS.
Tarian Favoritnya
Nadia bisa mementaskan berbagai jenis tarian tetapi salah satu
yang menjadi favoritnya adalah Tari Tifa (Rii Piiworotu dance).
Tarian ini aslinya berasal dari daerah Wandama khususnya kampung
Wontuboi. Tari tersebut menggambarkan kisah tentang bagaimana
marga Yomaki terbentuk.
Pada suatu hari ada seorang pria yang bernama Mamberaki yang
adalah leluhur marga Yomaki muncul ketika ada air bah. Dia
membawa tiga benda pusaka. Benda-benda itu adalah Piiworotu (sejenis
tifa di kawasan Indonesia Timur), Revo (buku pusaka) dan Tabura
(sejenis terompet yang terbuat dari kulit bia).
sambil membawa barang pusaka tersebut, dia turun dari Gunung
Wontuboi untuk mencari orang-orang yang selamat dari air bah
tersebut di kampung. Dengan meniup Tabura, dia bisa menemui
orang-orang yang selamat dari banjir tersebut.
Kemudian dia menunjukkan tiga benda itu kepada orang-orang yang
selamat ini dan mulai menanyai mereka, "dari ketiga benda ini,
yang manakah kalian sukai?" Mereka menolak buku suci dan tabura
serta lebih memilih Piiworotu (tifa) karena benda itu bentuknya
indah. Di samping itu tifa ini memiliki suara nyaring dan
ornamen yang indah. Jadi Piiworotu dipakai sebagai alat
komunikasi dan sebagai alat musik tradisional.
Tantangan-tantangan
Tidak selalu mudah untuk mencapai tingkat profesionalisme
dalam tari-tarian seperti yang telah Nadia capai. Dia harus
menghadapi banyak tantangan. Beberapa di antaranya adalah:
-
Kendala bahasa.
Papua memiliki banyak bahasa-bahasa suku dan dia tidak
menguasainya. Dia hanya bisa mengeri beberapa kata harian
dalam bahasa Biak.
-
Kritik terhadap
identitasnya. Orang masih mengkritiknya bahwa masyarakat
aslilah yang seharusnya mementaskan tari-tarian tradisional
dan bukannya orang non-Papua seperti dia.
-
Kostum terbuka.
Kebanyakan kostum yang dia pakai selama
pementasan-pementasannya adalah terbuka. Baginya hal ini
masih bisa diterima sepanjang tidak melanggar moralitas.
Nadia dan
keluarganya
Nadia memiliki dua orang saudara perempuan dan seorang adik
laki-laki. Saudari tertuanya adalah seorang dokter yang sedang
bekerja di Jakarta. Dia adalah yang kedua. Saudari yang ketiga
sedang belajar matematika di Institut Teknologi Surabaya. Adik
laki-lakinya yang paling bungsu bersekolah di SMA.
Semua saudara laki-laki dan perempuan serta orang tuanya
mendukung aktivitasnya dalam tari-tarian. Ayahnya bekerja di
Sipil Angkatan Laut. Ibu Nadia selalu mendampinginya dalam
berbagai pementasan lokal. "Sayangnya, dia tidak dapat
menemaninya selama pementasan di luar daerah."
Nadia lahir pada tanggal 30 Oktober 1986. Alamat emailnya adalah
nadia_siregar013@yahoo.com. Dia lulus dari jurusan
Arsitektur Perkapalan Universitas Hasanuddin Makassar pada tahun
2008.
Baca juga:
Beautiful Girls from Switzerland on their hiking trip near lake
Anggi
Manokwari Map |
Where is Manokwari? |
Souvenir Shops |
Travel Attractions |
Accommodation
in Manokwari | Professional Guide
Travel Guide
Manokwari
The following articles are my recommendation, stories and
experience when guiding foreign tourists who come to Manokwari of West
Papua to enjoy the
beauty of its natural scenery and the hospitality of the indigenous people. This
website is aimed at promoting eco-tourism in the region to create jobs among the
indigenous people and
awareness among us about the importance of protecting and preserving tropical rainforest that is now facing
extinction due to rapid deforestation.
Happy
Traveling
Charles Roring (click to e-mail me)
Tourist Guide
If you want to read
more stories about travel in Manokwari of West Papua, you can see my other blogs
at the following addresses:
Manokwari Papua
Papuan Art and
Culture Stories
My personal
diary on Manokwari Eco-tourism activities
Art and Culture Stories
Art and culture have been an integral part
of human life. The following articles are
English reading comprehension material which
you can use to enrich your vocabularies
particularly those related to painting,
dancing, and music. Because I like painting
with watercolors very much, many of the
articles will be about watercolor. The
artworks that I have created in recent years
are based on my observations on nature
(landscape, seascape, forest) and human
activities when I travel around guiding
tourists. I consider painting as a hobby. It
has not been a profession because of my
other works in writing travel stories and
guiding tourists. However, I might decide to
devote my whole time in the future to this
beautiful art media.
Ubud the center
of art and culture of Bali
Learning English by Watching The Culture Express
Program of CCTV 9 - CCTV 9 is a state owned TV station of the People’s Republic of
China. It broadcasts in English. Besides presenting news,
sports, and economic programs, the TV station has a special
program for art lovers. It is called Culture Express. Through
this program, TV audience can see various information about art
and cultural events such as painting exhibition, opera and dance
performance, as well as music concert. The program often
features life story of famous artists from China too. Most of
them have given significant contributions to the development of
Chinese art and culture.
Nadia Siregar Master of Papuan Traditional
Dance
|