KAMPUNG DOREY
Alfred Russel Wallace
|
|
|
Pelabuhan kapal (haven) di Teluk Doreri Manokwari Foto oleh Charles Roring 2002 |
Pelabuhan Dorey adalah teluk yang bagus, di salah satu ujungnya sebuah tanjung menjorok keluar, dan, dengan dua atau tiga pulau-pulau kecil, membentuk tempat berlabuh yang terlindungi. Satu-satunya kapal yang ada di sana ketika kami tiba adalah sebuah kapal layar Belanda, yang bermuatan batu bara untuk keperluan sebuah kapal perang bertenaga uap (war-steamer), yang dinanti setiap hari, pada sebuah ekspedisi penjelajahan sepanjang pantai New Guinea, untuk memperkokoh keberadaannya di koloni tersebut. Pada malam hari kami pergi berkunjung dan mendarat di Kampung Dorey, untuk mencari sebuah tempat di mana saya dapat membangun rumah. Tuan Otto juga membantu berunding dengan beberapa kepala suku, supaya mengirimkan beberapa orang guna memotong kayu, rotan, dan bambu pada hari berikutnya.
Kampung-kampung Mansinam dan Dorey menunjukkan beberapa hal yang cukup baru buat saya. Rumah-rumah semuanya berdiri sepenuhnya di atas air, dan dijangkau dengan jembatan-jembatan panjang yang dibuat seadanya. Rumah-rumah itu sangat pendek, dengan atap berbentuk seperti perahu besar, dengan dasar yang terbalik. Tiang-tiang yang menopang rumah, jembatan, dan lantai adalah tiang-tiang kayu yang tidak terlalu lurus, dipancangkan secara tidak beraturan, sehingga seakan-akan tiang-tiang kayu itu hendak bengkok. Lantainya juga terbuat dari kayu-kayu kecil, tersusun sembarangan, dan jaraknya begitu jauh, sehingga saya mendapati hampir tidak mungkin untuk menutupinya. Dinding-dindingnya terdiri dari potongan-potongan papan, perahu tua, tikar-tikar lapuk, atap, dan daun-daun kelapa, yang ditempelkan di sana-sini, sehingga nampak suram dan kumuh. Di bawah tepi luar dari banyak rumah tergantung tengkorak manusia, trophy yang mereka rebut dalam petempuran-pertempuran mereka melawan masyarakat Arfak pedalaman yang masih kejam, yang sering datang menyerang mereka. Sebuah rumah dewan yang berbentuk seperti perahu besar berdiri di atas tiang-tiang besar, setiap tiang itu dipahat secara kasar menyerupai figur laki-laki dan perempuan telanjang, ada pula ukir-ukiran lain yang kelihatan seram ditempatkan di bangunan sebelum pintu masuk. Pemandangan kampung tua yang mendiami sebuah danau, yang diilustrasikan oleh Sir Charles Lyell's dalam "Antiquity of Man," pada dasarnya sama dengan sketsa kampung Doreri; tetapi keteraturan bangunan yang digambarkan di sana tidak terlihat di sini seperti yang mungkin dimiliki oleh kampung-kampung danau pada umumnya.
Orang-orang yang mendiami gubuk-gubuk sederhana ini sama dengan penduduk Kei dan Aru, dan banyak dari mereka yang gagah, tinggi dengan postur tubuh yang baik, potongan wajah tampan dan hidung besar yang mancung melengkung. Warna kulit mereka coklat tua, mendekati hitam, rambut mereka keriting, sebuah garpu bambu besar bergigi enam dan panjang disangkutkan di rambut serta berfungsi sebagai sisir; sisir ini digunakan di waktu senggang untuk menjaga agar rambut mereka tidak teranyam dan terpilin. Mayoritasnya memiliki rambut yang keriting pendek, yang kelihatannya tidak dapat dikembangkan. Pertumbuhan rambut seperti ini, banyak ditemukan di keturunan campuran antara Indian dan Negro di Amerika Selatan. Mungkinkah bahwa orang Papua adalah ras campuran?
Ekspedisi Alfred Russel Wallace ke Teluk Dorey
Berikut ini adalah kisah perjalanan Alfred Russel Wallace ke Teluk Dorey New Guinea (sekarang Manokwari, Papua) pada tahun 1858 sebagaimana diuraikannya dalam Chapter XXXIV dari bukunya yang berjudul The Malay Archipelago