MEMBANGUN RUMAH DI TELUK DOREY

Alfred Russel Wallace

 

 

Kwawi, Manokwari, possibly, Alfred Russel Wallace built his "house" around this area. The photo was shot by Charles Roring in 2006

Kwawi, Manokwari. Kemungkinan besar di sekitar sinilah Alfred Russel Wallace membangun rumahnya

Foto oleh Charles Roring, 2006.

Selama tiga hari setelah kedatangan kami saya sepenuhnya sibuk dari pagi sampai malam membangun sebuah rumah, dengan bantuan selusin orang Papua dan pembantu-pembantu saya sendiri. Mulanya sulit untuk menyuruh mereka bekerja, karena hampir tidak satu pun dari mereka yang bisa berbicara bahasa Melayu; sehingga harus menggunakan banyak bahasa isyarat, dan setelah sejumlah gerakan yang teratur sesuai dengan yang diinginkan, maka kami dapat menyuruh mereka melakukan sesuatu. Jika kami membuat mereka mengerti bahwa beberapa tiang lagi diperlukan, dua tiang dapat dengan mudah dipotong, enam atau delapan tiang akan membuat mereka pergi semuanya, sekali pun kami membutuhkan beberapa dari mereka untuk melakukan hal-hal yang lain. Suatu pagi sepuluh dari mereka datang untuk bekerja, dengan membawa hanya satu kapak, sekalipun mereka tahu saya sama sekali tidak punya kapak yang siap untuk digunakan.

Saya memilih tempat kira-kira dua ratus meter dari pantai, di daratan yang lebih tinggi, di pinggir jalan setapak utama dari kampung Dorey ke kebun dan hutan. Dalam jarak dua puluh yard ada sebuah kali kecil; yang menyediakan air segar dan tempat yang bagus untuk mandi buat kami. Hanya ada sedikit sampah kayu yang perlu disingkirkan, ada beberapa pohon hutan yang tumbuh tidak jauh, dan kami memotong kayu kira-kira dua puluh yard di sekeliling rumah agar cahaya dan udara bisa leluasa masuk. Rumahnya, berukuran kira-kira 20 feet x 15 feet;  seluruhnya terbuat dari kayu, dengan lantai bambu, sebuah pintu, dan sebuah jendela besar, yang menghadap ke laut, di situ saya tempatkan meja saya, yang tidak jauh di sampingnya ada tempat tidur yang dipisahkan dengan sebuah partisi kecil. Dara Mahkota atau Burung MambrukSaya membeli tikar-tikar besar dalam jumlah banyak dari penduduk asli, yang saya jadikan sebagai dinding yang bagus sekali; sedangkan tikar-tikar yang saya bawa sendiri digunakan sebagai plafon, lalu di atasnya ditutupi dengan daun atap segera setelah pesanan kami dibuatkan. Di luar, agak ke belakang, adalah sebuah gubuk kecil yang digunakan untuk memasak, sebuah bangku, yang diberi atap di atasnya, di situ orang-orang saya dapat duduk untuk menguliti kulit burung dan binatang. Setelah semuanya selesai, barang dan perbekalan saya diangkut lalu disusun dengan rapih di dalam rumah, selanjutnya saya membayar orang-orang Papua itu dengan sejumlah pisau dan kapak, setelah itu saya memperbolehkan mereka pulang. Hari berikutnya kapal layar kami berangkat ke pulau-pulau yang lebih ke timur, dan saya mendapati diri saya sebagai satu-satunya orang Eropa yang bermukim di Pulau New Guinea yang maha besar ini.

Karena kami masih memiliki keragu-raguan terhadap penduduk asli, pertama-tama kami tidur dengan senjata yang sudah diisi peluru di sisi kami dengan pengaturan jaga malam; tetapi setelah beberapa hari, mendapati bahwa orang-orang itu bersahabat, serta merasa yakin bahwa mereka tidak akan berusaha menyerang lima orang yang bersenjata lengkap maka kami tidak perlu merasa khawatir lagi. Kami masih memiliki satu atau dua hari untuk menyelesaikan pembuatan rumah, menutupi kebocoran, memasang rak-rak gantung buat mengeringkan spesimen di dalam dan di luar, membuat jalan setapak ke kali, serta membersihkan halaman di depan rumah.

Pada tanggal 17 April 1858, kapal uapnya belum datang, sehingga kapal batu bara (the coal ship) akhirnya berangkat karena sudah berada di sini selama sebulan sesuai dengan kontraknya. Pada hari yang sama pemburu-pemburuku pergi ke hutan guna menembak untuk pertama kalinya, dan membawa pulang seekor burung mambruk atau disebut juga dara mahkota (crown pigeon) yang cantik sekali dan beberapa burung biasa. Pada hari berikutnya mereka lebih berhasil, dan saya gembira melihat mereka kembali dengan seekor Burung Surga (Bird of Paradise atau Cendrawasih) dengan bulunya yang indah, sepasang Luri Papua yang bagus (Lorius Domicella), empat Luri dan Parroquets, seekor Grackle (Gracula dumonti), seekor Pemburu-Raja (dacelo Gaudichaudi), seekor racquet-tailed kingfisher (Tanysiptera Galatea), dan dua atau tiga ekor burung yang biasa lainnya.

 

Ekspedisi Alfred Russel Wallace ke Teluk Dorey

Berikut ini adalah kisah perjalanan Alfred Russel Wallace ke Teluk Dorey New Guinea (sekarang Manokwari, Papua) pada tahun 1858 sebagaimana diuraikannya dalam Chapter XXXIV dari bukunya yang berjudul The Malay Archipelago. Perjalanan beliau mengelilingi seluruh wilayah nusantara (termasuk kawasan Malaysia) sangatlah bermanfaat bagi masyarakat di kawasan ini mengingat ia telah meninggalkan sebuah dokumen perjalanan yang cukup penting dilihat dari sejarah alam, keadaan penduduk pada masa itu serta bagaimana sulitnya seorang peneliti melakukan tugasnya demi pengembangan ilmu pengetahuan.

  1. Burung Cendrawasih adalah spesies endemik di PapuaPelayaran ke  New Guinea

  2. Meeting withBertemu dengan Dua Penginjil Otto dan Geisler

  3. Kampung Dorey

  4. Membangun rumah di Teluk Dorey New Guinea

  5. Mengunjungi suku Arfak di belakang Gunung Meja

  6. Berburu dan Mempelajari Serangga

  7. Kanguru Pohon

  8. Burung Surga (Cendrawasih) semakin langka

  9. Jatuh Sakit

  10. People Orang Dorey seniman dan pemahat ulung

  11. Serangga kecil Coleoptera

  12. Semut dan lalat

  13. Kembali ke Ternate

Home | Contact Us | About us | Site Map | Free English Lessons | TOEFL Preparation | English Books | American Mosaic | Grammar | General English | Sample Conversation | Readings | TOEIC Preparation | Business English | Health and Lifestyle