Mengunjungi Suku Arfak di Belakang Gunung Meja Manokwari
Alfred Russel Wallace
![]() |
|
Rumah Kaki Seribu di Kampung Anggori, foto diambil oleh Charles Roring, 2003. |
![]() |
|
Pipa Tembakau, ilustrasi dari buku The Malay Archipelago karya Alfred R. Wallace |
Saya sendiri pergi mengunjungi desa penduduk asli yang terdapat di bukit sebelah belakang Dorey, dan membawa suatu hadiah kecil berupa kain, beberapa buah pisau dan manik-manik, untuk menunjukkan niat baik saya kepada kepala suku, dan meminta dia untuk mengirim beberapa orang supaya menolong saya menangkap atau menembak burung. Rumah-rumah tersebar di sekitar wilayah yang sudah dibersihkan secara kasar. Dua rumah yang saya kunjungi berada di pinggir jalan utama, di sisi jalan itu ada jalan setapak pendek yang menuju ke masing-masing rumah yang terdiri dari dua ruangan, masing-masing rumah menampung sebuah keluarga secara terpisah. Rumah-rumah itu berada di atas tanah kurang lebih 15 feet, di atas tiang-tiang kayu hutan, dan begitu kasar serta sangat sederhana. Pada lantai-lantai tempat berjalan ada yang kayunya terlepas, sehingga seorang anak kecil bisa jatuh ke tanah. Penduduknya kelihatan agak lebih sederhana daripada penduduk yang berdiam di Kampung Dorey. Tak diragukan lagi, mereka adalah masyarakat asli yang sebenarnya dari New Guinea ini, mereka tinggal di pedalaman dan bertahan hidup dengan memetik hasil hutan serta berburu. Di pihak lain, orang-orang Dorey, adalah penduduk pesisir pantai, nelayan dan pedagang dalam skala kecil, sehingga memiliki karakter sebuah koloni yang mungkin telah bermigrasi dari tempat lain. Orang-orang gunung ini atau "orang-orang Arfak" memiliki postur fisik yang sangat berbeda. Umumnya mereka berkulit hitam, tetapi ada sedikit sekali yang coklat seperti orang Melayu. Rambut mereka keriting, kadang-kadang pendek kusam, dan tidak panjang, tetapi tidak padat seperti wol; dan ini nampaknya merupakan ciri khas yang tidak berubah, dan tidak dipengaruhi oleh pemeliharaan dan pemangkasan. Hampir setengah dari mereka menderita penyakit kulit. Kepala suku yang tua itu kelihatannya sangat senang dengan hadiah tersebut, dan berjanji (melalui seorang penerjemah yang saya bawa) untuk melindungi orang-orangku ketika mereka datang ke sana guna berburu, dan juga akan memberikanku beberapa ekor burung dan binatang. Ketika sedang bercakap-cakap, mereka menghisap tembakau yang mereka tanam sendiri, di dalam pipa-pipa yang dipotong dari sebilah kayu dengan gagang tegak yang panjang.
Kami tiba di Dorey kira-kira di akhir musim hujan, ketika seluruh daerah tersebut dipenuhi dengan uap air. Jalan-jalan setapak milik penduduk sering seperti terowongan yang ditutupi dengan tumbuh-tumbuhan, dan di tempat-tempat seperti itu selalu ada kubangan lumpur yang dalam. Bagi orang Papua yang telanjang hal ini bukan halangan. Dia dapat berjalan melalui kubangan tersebut, dan air di kali berikutnya dapat membersihkannya lagi; tetapi bagiku, dengan memakai sepatu boots dan celana panjang, adalah hal yang paling tidak menyenangkan untuk melipat celana itu sampai setinggi lutut dan berjalan di kubangan lumpur setiap pagi. Orang yang aku bawa untuk memotong kayu segera jatuh sakit setelah kami tiba, kalau tidak saya akan menyuruhnya untuk membersihkan semak-semak agar membuat jalan yang baru di tempat-tempat jelek yang ada kubangan lumpurnya. Umumnya setiap sore dan sepanjang malam selama sepuluh hari pertama turun hujan tetapi dengan pergi setiap kali bila cuaca baik, saya bisa terus melakukan pengkoleksian burung dan serangga, dan menemukan hampir semua yang pernah dikumpulkan oleh Lesson selama perjalanannya di Coquille, juga mengumpulkan spesies lain yang baru. Tetapi, nampaknya Dorey bukanlah tempatnya Burung Surga tersebut, tak satu pun penduduk asli yang terbiasa menyimpannya. Semua yang dijual di sini adalah yang dibawa dari Amberbaki, kira-kira seratus mile ke arah barat, orang-orang Dorey pergi ke sana untuk berdagang.
Pulau-pulau yang ada di dalam teluk, dengan dataran-dataran rendah yang ada di pinggir pantai, kelihatannya terbentuk dari bebatuan karang (coral reef) yang terangkat, serta dipenuhi karang tetapi sedikit berubah. Perbukitan yang ada di belakang rumahku, menjorok ke karang-karang itu, juga sepenuhnya terdiri dari bebatuan karang, sekalipun ada tanda-tanda dasar bebatuan yang berlapis-lapis di sebelah jurang, batu karang itu sendiri lebih padat dan mengkristal. Sehingga mungkin lebih tua dari pada daerah yang baru muncul di dataran rendah dan pulau-pulau tersebut. Di sisi lain dari teluk ini terbentang Pegunungan Arfak yang besar sekali, menurut navigator-navigator Perancis kira-kira 10.000 feet tingginya, dan didiami oleh suku-suku yang masih kejam. Orang-orang Dorey sering diserang dan dijarah takut sekali kepada mereka, tetapi orang Dorey menggantung beberapa dari tengkorak suku-suku tersebut di luar rumahnya. Jika saya terlihat hendak pergi ke hutan ke arah pegunungan itu, anak-anak kecil di kampung akan berteriak padaku, "Arfaki! Arfaki?" sama seperti yang mereka lakukan kepada Lesson kira-kira hampir empat puluh tahun sebelumnya.
Ekspedisi Alfred Russel Wallace ke Teluk Dorey
Berikut ini adalah kisah perjalanan Alfred Russel Wallace ke Teluk Dorey New Guinea (sekarang Manokwari, Papua) pada tahun 1858 sebagaimana diuraikannya dalam Chapter XXXIV dari bukunya yang berjudul The Malay Archipelago. Perjalanan beliau mengelilingi seluruh wilayah nusantara (termasuk kawasan Malaysia) sangatlah bermanfaat bagi masyarakat di kawasan ini mengingat ia telah meninggalkan sebuah dokumen perjalanan yang cukup penting dilihat dari sejarah alam, keadaan penduduk pada masa itu serta bagaimana sulitnya seorang peneliti melakukan tugasnya demi pengembangan ilmu pengetahuan.