Berburu dan Mempelajari Serangga

by Alfred Russel Wallace

 

Tidak lama sebelum kapal uap tersebut tiba persendian saya terluka karena memanjat di antara batang dan cabang pohon-pohon yang roboh (tempat perburuan serangga yang paling terbaik buat saya), dan seperti biasanya dengan luka-luka kaki pada iklim seperti ini, luka itu berubah menjadi borok yang lama, akibatnya saya tidak dapat keluar rumah selama beberapa hari. Ketika borok itu sembuh, diikuti oleh radang di bagian dalam kaki, sesuai dengan nasihat dokter saya beri obat terus-menerus selama empat atau lima hari, supaya menurunkan bengkak di tendon sebelah atas tumit. Ini harus dibedah dan dikeluarkan nanahnya, lalu dirawat dengan salep dan obat selama beberapa minggu, sampai saya hampir putus asa. Cuaca ketika itu baik, dan saya tergoda melihat sebuah kupu-kupu besar yang terbang melewati pintu rumah lalu saya berpikir tentang dua puluh atau tiga puluh spesies baru serangga yang perlu saya dapatkan setiap hari. Ini juga di New Guinea - sebuah daerah yang mungkin tidak akan pernah saya kunjungi lagi,  suatu daerah yang mungkin tak satu pun naturalis pernah bermukim sebelumnya, - suatu daerah yang memiliki obyek-obyek natural yang lebih aneh, lebih baru dan lebih cantik dari pada bagian manapun di bumi ini. Naturalis akan mampu menghargai perasaan saya, duduk dari pagi sampai malam di dalam gubuk kecil, tidak dapat bergerak tanpa tongkat, satu-satunya hiburan bagi saya adalah burung-burung yang dibawa oleh pemburu-pemburu saya setiap sore, dan beberapa serangga yang ditangkap oleh orang Ternate saya, Lahagi, yang setiap hari pergi menggantikan saya, tentu saja ia tidak memperoleh seperempat bagian dari apa yang seharusnya saya dapatkan. Kesulitan itu diperparah lagi karena semua orang-orang saya kurang lebih menderita sakit, beberapa ada yang demam, dan yang lainnya disentri; pada suatu ketika ada tiga orang di samping saya yang tak berdaya sekaligus, tukang masak sendiri yang masih sehat, dan memiliki banyak pekerjaan selain merawat kami. Pangeran Tidore dan Residen Panda (mungkin yang dimaksudkan Residen Banda - penerjemah) ada di dalam kapal uap itu dan sedang mencari Burung Surga. Mereka mengirim orang ke segala arah, sehingga tidak ada kesempatan buat saya untuk memperoleh kulit burung dari jenis yang lebih langka. Berbagai burung, serangga, atau binatang yang hendak dijual orang-orang Dorey semuanya dibawa ke atas kapal uap tersebut, di sana pembeli-pembelinya mendapatkan segala yang mereka inginkan dan barang-barang yang beraneka jenis dalam jumlah yang lebih besar daripada yang saya miliki ditawarkan kepada para penjual.

Setelah sebulan terkurung saya sedikit demi sedikit bisa keluar rumah, dan pada saat yang sama saya berhasil memperoleh sebuah perahu dengan enam orang penduduk asli untuk membawa Ali dan Lahagi ke Amberbaki, dan membawa mereka kembali di akhir bulan. Ali ditugaskan membeli semua Burung Surga (Birds of Paradise) yang dapat ia peroleh di sana, serta menembak maupun menguliti semua burung langka atau burung jenis baru lainnya; Lahagi harus mengumpulkan serangga, yang saya harapkan lebih berlimpah dari pada yang terdapat di Dorey. Ketika saya memulai kembali jalan harian mencari serangga, saya mendapati perubahan besar di daerah sekitar saya, sebuah perubahan yang sangat saya setujui. Selama saya berbaring di rumah, anak buah kapal dan serdadu-serdadu jawa yang telah dibawa untuk bekerja (sebuah kapal layar yang telah tiba segera setelah Etna), telah disuruh untuk memotong pohon, menggergaji, dan membelah kayu-kayu besar untuk kayu bakar, supaya kapal uap bisa kembali ke Amboyna jika kapal-batu bara yang ditunggu tidak kembali; dan mereka juga telah membabat sejumlah jalan yang lurus dan lebar di dalam hutan ke berbagai arah, sehingga membuat penduduk asli begitu kagum, tetapi tidak memahami semua itu. Sekarang saya memiliki bermacam-macam jalan, dan sejumlah kayu mati sebagai tempat mencari serangga; tetapi dengan tidak melihat manfaat jalan tersebut, serangga yang ada tidak sebanyak yang pernah saya temukan di Serawak, atau Amboyna, atau Batchian, guna memastikan pendapat saya bahwa Dorey bukanlah tempat yang baik. Tetapi di suatu tempat beberapa mil jauhnya ke pedalaman, jauh dari bebatuan karang yang baru naik ini dan jauh dari pengaruh udara laut, tangkapan yang lebih banyak mungkin bisa diperoleh.

 

Ekspedisi Alfred Russel Wallace ke Teluk Dorey

Berikut ini adalah kisah perjalanan Alfred Russel Wallace ke Teluk Dorey New Guinea (sekarang Manokwari, Papua) pada tahun 1858 sebagaimana diuraikannya dalam Chapter XXXIV dari bukunya yang berjudul The Malay Archipelago

  1. Burung Cendrawasih adalah spesies endemik di PapuaPelayaran ke  New Guinea

  2. Meeting withBertemu dengan Dua Penginjil Otto dan Geisler

  3. Kampung Dorey

  4. Membangun rumah di Teluk Dorey New Guinea

  5. Mengunjungi suku Arfak di belakang Gunung Meja

  6. Berburu dan Mempelajari Serangga

  7. Kanguru Pohon

  8. Burung Surga (Cendrawasih) semakin langka

  9. Jatuh Sakit

  10. PENDUDUK DOREY PELUKIS DAN PEMAHAT ULUNG

  11. COLEOPTERA KECIL

  12. SEMUT DAN LALAT

  13. PULANG KE TERNATE

Home | Contact Us | About us | Site Map | Free English Lessons | TOEFL Preparation | English Books | American Mosaic | Grammar | General English | Sample Conversation | Readings | TOEIC Preparation | Business English | Health and Lifestyle