JATUH SAKIT

 

Alfred Russel Wallace

 

Ketika kapal uap itu pergi, saya sedang menderita serangan demam yang parah. Kira-kira dalam satu minggu saya mengalaminya, tetapi hal tersebut diikuti oleh rasa nyeri di dalam mulut, lidah dan gusi, sehingga selama berhari-hari saya tidak dapat memasukkan makanan-makanan keras ke dalam mulut, sehingga saya terpaksa bertahan hidup dengan bubur, walaupun keadaan tubuh saya yang lain baik. Pada saat yang sama dua pelayanku jatuh sakit, seseorang terserang demam, dan yang lainnya disentri, keduanya parah. Saya lalukan apa saja yang dapat saya perbuat dengan persediaan obat-obatan yang sudah menipis, mereka tetap begitu saja selama beberapa minggu, sampai pada tanggal 26 Juni 1858 Jumaat yang malang meninggal. Umurnya kira-kira delapan belas tahun, saya yakin, asli Buton, ia pemuda yang tenang, kuat, tidak begitu aktif, tetapi melakukan pekerjaannya dengan baik. Karena semua pelayan-pelayan saya pengikut Muhamad, saya membiarkan mereka menguburkannya menurut cara mereka sendiri, saya memberi sedikit kain kapas untuk dijadikan sebagai kain kafan.

Pada tanggal 6 Juli 1858 kapal uap kembali dari arah timur. Cuacanya masih begitu basah, walaupun menurut teori, cuaca seharusnya sudah cerah dan kering. Saya hampir tidak punya apa-apa untuk dimakan, dan kami semua sakit. Demam, dingin dan disentri terus-terusan menyerang kami, sehingga membuat saya ingin sekali meninggalkan New Guinea, sama seperti ketika saya rindu untuk datang ke sana. Kapten kapal Etna datang berkunjung dan menceritakan perjalanannya yang indah dan menarik kepada saya. Mereka tinggal di Teluk Humboldt beberapa hari lamanya, dan mendapati bahwa tempat itu jauh lebih indah dan lebih menarik daripada Dorey, juga pelabuhannya lebih baik. Penduduk asli di sana cukup sederhana, hampir tidak pernah dikunjungi kecuali oleh pemburu ikan paus yang tersesat, dan mereka lebih perkasa secara fisik dan moral dari pada orang Dorey. Mereka mondar-mondir agak telanjang. Rumah-rumah mereka sebagian di atas air dan sebagian di darat, semuanya dibangun dengan baik dan rapih; ladang-ladang mereka dipanen secara teratur, dan jalan-jalan setapak ke tempat mereka dijaga bersih dan terbuka, sedangkan di Dorey buruk sekali. Mula-mula mereka pemalu, dan menolak perahu-perahu dengan menunjukkan sikap marah, mengacung-acungkan busur panah mereka dan mengancam akan memanah jika ada yang berusaha mendarat. Di luar dugaan kapten melemparkan beberapa hadiah ke pantai, dan setelah dua atau tiga kali mencobanya mereka diizinkan untuk mendarat, lalu pergi berkeliling serta melihat-lihat wilayah itu, kemudian mereka diberikan buah-buahan dan sayur-sayuran. Semua komunikasi dengan mereka dilakukan dengan bahasa isyarat - juru bahasa Dorey, yang menemani kapal uap tersebut, tidak dapat memahami satu kata pun dari bahasa mereka. Tidak ada burung atau binatang baru yang ditemukan, tetapi dalam ornamen-ornamen mereka terlihat burung Surga, sehingga hal ini menunjukkan bahwa burung-burung tersebut tersebar sampai ke wilayah ini, dan mungkin ke seluruh New Guinea.

 

Ekspedisi Alfred Russel Wallace ke Teluk Dorey

Berikut ini adalah kisah perjalanan Alfred Russel Wallace ke Teluk Dorey New Guinea (sekarang Manokwari, Papua) pada tahun 1858 sebagaimana diuraikannya dalam Chapter XXXIV dari bukunya yang berjudul The Malay Archipelago

  1. Burung Cendrawasih adalah spesies endemik di PapuaPelayaran ke  New Guinea

  2. Meeting withBertemu dengan Dua Penginjil Otto dan Geisler

  3. Kampung Dorey

  4. Membangun rumah di Teluk Dorey New Guinea

  5. Mengunjungi suku Arfak di belakang Gunung Meja

  6. Berburu dan Mempelajari Serangga

  7. Kanguru Pohon

  8. Burung Surga (Cendrawasih) semakin langka

  9. Jatuh Sakit

  10. PENDUDUK DOREY PELUKIS DAN PEMAHAT ULUNG

  11. COLEOPTERA KECIL

  12. SEMUT DAN LALAT

  13. PULANG KE TERNATE

Home | Contact Us | About us | Site Map | Free English Lessons | TOEFL Preparation | English Books | American Mosaic | Grammar | General English | Sample Conversation | Readings | TOEIC Preparation | Business English | Health and Lifestyle