Kunjungan Pada Seniman Ukir dan Lukis di Manokwari Papua
Tuan
Asaribab adalah seorang seniman ukir kayu dan lukis cat minyak di Manokwari.
Bulan Januari yang lalu saya dan Paul menemani tiga orang wisatawan Russia
mengunjunginya. Jam 10.30 malam saat kami mengetuk pintu rumahnya. Seniman itu
membuka pintu rumahnya sendiri. Saya memperkenalkan diri dan berkata bahwa ada
tiga orang asing di belakang saya yang tertarik membeli karya-karya seninya. Dia
sedang melukis panorama terumbu karang di bawah laut ketika saya mengetuk pintu.
Dia nampak senang ketika menerima tiga orang Russia itu. Saya memperkenalkan
mereka satu per satu. Mereka adalah Mikhail, Inga dan Dima. Mereka berasal dari
Moscow, ibu kota Russia - sebuah negara besar di Eropa Timur. Hari sebelumnya,
saya membawa mereka bertemu Tuan Awom, juga seorang seniman ukir kayu yang
tinggal di Jalan Merdeka di samping toko Suri bakery. Sebuah toko yang terletak
di kawasan bisnis utama yang tidak hanya menjual roti melainkan layanan fotokopi.
Aneh, bukan? Ada sebuah warung makan yang bagus di samping toko itu. Menu
favorit yang ditawarkannya adalah sate dan soto, dua masakan Jawa yang semakin
terkenal menjadi hidangan cepat saji di kalangan masyarakat Indonesia.
Secara pribadi, saya senang mengantar turis-turis Russia ini sebagai tamu saya
karena saat sedang mempelajari Naval Architecture di Universitas Pattimura, saya
membaca banyak buku teknik yang ditulis oleh ilmuan-ilmuan Russia.
Kembali ke cerita mengenai seniman ukir kayu yakni Tuan Asaribab. Ya, dia baru
saja kembali dari Jakarta setelah mengikuti Pameran Seni di Jakarta. Tuan
Asaribab berkata bahwa kebanyakan ukir-ukirannya masih dalam perjalanan ke
Manokwari di dalam sebuah kapal kontainer. Dia kembali ke kotanya dengan naik
pesawat. Dia masih bisa menunjukkan kepada kita sejumlah kerajinan tangannya.
Ada piring dan patung kayu.
Mike, Dima dan Inga mengambil beberapa dan melihat mereka satu per satu. Inga
menunjukkan ketertarikannya pada patung-patung mirip manusia berukuran kecil.
Dia membeli dua piring kayu yang bisa digantung di dinding dan sebuah patung.
Harga souvenir ukiran kayu ini bervariasi mulai dari beberapa ratus ribu hingga
jutaan rupiah.
Ketika kami meninggalkan rumah mereka, waktu telah menunjukkan 11 malam. Wilayah
Anggrem yang sebelumnya nampak ramai sekarang tenang. Beberapa wanita Papua yang
berpapasan dengan kami menyalami kami, "Selamat Malam." Di dekat kantor palang
merah, beberapa pemuda Papua yang duduk di emperan jalan di dekat pagar kantor
PMI sedang meminum minuman beralkohol. Mereka juga menyalami kami, "Selamat
Malam." Ketika kami melewati kantor Polisi Militer, saya menunjukkan kepada
mereka sebuah bukaan/ lubang berukuran tinggi kurang lebih 1.5 meter yang
terletak di samping tanjakan menuju Jalan Brawijaya. Itu adalah sebuah
terowongan atau gua perlindungan yang dibangun tentara Jepang selama Perang
Dunia II atau Perang Pasifik. Mereka menggunakannya sebagai bomb shelter. Ada
banyak tempat perlindungan bom yang dibangun tentara kekaisaran Jepang (the
Japanese Imperial Army) selama perang mereka melawan Tentara Sekutu pimpinan
Amerika Serikat di kota ini.
Meskipun perjalanan kaki ke rumah Asaribab cukup jauh dan melelahkan, saya
melihat bahwa turis-turis Russia ini senang dengan apa yang baru saja mereka
beli. Mungkin mereka akan menghadiahkan souvenir
atau cindera mata itu kepada keluarga dan teman-teman mereka di Moscow atau
kota-kota lainnya di Russia. oleh
Charles Roring - penulis dan pemandu wisata di
Manokwari Papua. Jika Anda
tertarik berwisata ke Manokwari dan membutuhkan seorang pemandu, silahkan
menghubungi saya lewat email lroring@yahoo.com
English language version: A Visit to Wood Carving Artist in Manokwari Papua
Manokwari Map | Where is Manokwari? | Souvenir Shops | Travel Attractions | Accommodation in Manokwari | Professional Guide
Travel Guide Manokwari
The following articles are my recommendation, stories and experience when guiding foreign tourists who come to Manokwari of West Papua to enjoy the beauty of its natural scenery and the hospitality of the indigenous people. This website is aimed at promoting eco-tourism in the region to create jobs among the indigenous people and awareness among us about the importance of protecting and preserving tropical rainforest that is now facing extinction due to rapid deforestation.
Happy Traveling
Charles Roring (click to e-mail me)
Tourist Guide
If you want to read more stories about travel in Manokwari of West Papua, you can see my other blogs at the following addresses:
Papuan Art and Culture Stories
My personal diary on Manokwari Eco-tourism activities