Eucalyptus Deglupta
Ketika
aku masih kecil, aku dan teman-teman suka pergi ke Gunung Meja. Di sana, kami
melihat burung-burung, dan berbagai jenis tumbuhan tropis. Ada hutan yang aku
pandang sangat unik. Warna kulitnya mirip dengan seragam loreng tentara.
Bertahun-tahun kemudian ketika saat ini aku telah dewasa, aku masih suka
menjelajahi hutan tropis Gunung Meja memandu wisatawan-wisatawan asing. Sekali
lagi pohon yang mirip seragam tentara tersebut menarik perhatian turis. Setiap
kali aku dan sahabatku membawa mereka melewati pohon itu, mereka akan meminta
kami untuk memotret mereka saat berdiri di samping pohon itu. Aku tak tahu nama
yang sebenarnya dari pohon itu hingga kemarin saat aku menemukannya di internet.
Namanya adalah Eucalyptus Deglupta. Spesies pohon ini, menurut penjelasan
sahabatku Nico - menyerap banyak air. Dataran yang ada di sekeliling akan
menjadi kering jika ada pohon-pohon eucalyptus yang tumbuh. Eucalyptus memiliki
banyak serat. Kayunya bagus untuk perabotan, papan dan tiang-tiang rumah. Pada
Januari 2010, Aku dan Paul Warere membawa tiga turis Russia ke Gunung Meja.
Hujan gerimis ketika itu namun kami benar-benar menikmati perjalanan di hutan
tropis Papua.
Aku tidak tahu mengapa orang-orang Belanda menanam eucalyptus di Gunung Meja.
Mungkin mereka memerlukan benih dari pohon-pohon itu guna membuat perkebunan
yang besar supaya bisa membuat pulp yang merupakan bahan dasar yang penting bagi
produksi kertas. Di samping itu, penanaman eucalyptus di daerah berawa, yang
berdekatan dengan pemukiman penduduk, akan mengeringkan tanah dan mencegah
nyamuk-nyamuk malaria tumbuh di sana. Informasi yang mengatakan bahwa kayu
eucalyptus dapat digunakan untuk kebutuhan kapal-kapal laut masih membutuhkan
penelitian dan eksperimen lebih mendalam karena kayu untuk perahu dan kapal laut
terutama pada bagian lambung harus tahan terhadap binatang laut yang mampu
melubangi papan lambung tersebut.
Jadi, jika Aku memandu wisatawan mengelilingi hutan Gunung Meja Manokwari lagi,
aku akan membawa mereka ke pohon eucalyptus. Mereka akan senang mengambil
beberapa foto pohon itu dan mereka sambil berdiri di "pohon tentara" tersebut.
Ada banyak spesies pohon, serangga, dan burung-burung di hutan hujan Pulau Papua. Mereka membentuk sebuah ekosistem yang integral dan penting bagi kelangsungan hidup hutan itu sendiri. Hutan hujan tropis menyerap gas-gas CO2 yang kita lepaskan setiap hari melalui kendaraan bermotor, peralatan masak dan pemanas atau pendingin di rumah-rumah kita. Meskipun hutan hujan memainkan peranan yang sangat penting dalam mengurangi atau melawan pemanasan global, masyarakat modern nampaknya mengabaikannya. Di mana-mana di seluruh dunia, luasan hutan hujan mengecil. Di Brazil, hutan ditebang secara besar-besaran untuk memberi jalan bagi dibukanya perkebunan tebu dan kedelai yang dipakai untuk menghasilkan bahan bakar "energi terbarukan" seperti alkohol dan bio-fuel atau bio-diesel.
Di
Indonesia dan Malaysia, hutan hujan yang berada di daerah katulistiwa sedang
dieksploitasi untuk diambil kayunyya dan lahannya untuk perkebunan sawit yang
produk CPOnya sangat dibutuhkan oleh industri-industri barang kebutuhan
sehari-hari di seluruh dunia.
Sangat salah mengganti hutan hujan tropis yang masih baik menjadi perkebunan
kelapa sawit atau tebu menggunakan energi terbarukan atau bio-fuel sebagai
alasan pembenaran praktek-praktek seperti itu. Pengrusakan hutan hujan akan
membawa dampak yang lebih merusak terhadap lingkungan daripada dampak baik.
Untuk menghasilkan atau membangkitkan energi terbarukan, bisnis-bisnis besar
seharusnya memikirkan menanam kembali padang-padang gurun di Afrika dan Asia
yang dulunya ditutupi oleh hutan atau membangun turbin-turbin angin di sepanjang
daerah pantai dan perbukitan, dan panel-panel surya photovoltaic di atap
rumah-rumah penduduk.
Skema eco-tourism yang saya sekarang ini promosikan melalui internet seharusnya dilihat sebagai alternatif yang aman dan bertanggung-jawab untuk membangkitkan penghasilan bagi masyarakat adat yang tinggal di dalam atau di sekitar hutan agar mereka tidak mudah menyerahkan hutan mereka kepada para usahawan yang hanya tertarik mengeksploitasi hutan hujan secara tidak bertanggung jawab.
Jika Anda tertarik mengunjungi Manokwari guna menikmati keindahan alam Papua, menyaksikan burung-burung surga, atau mempelajari pengobatan herbal dan berinteraksi dengan masyarakat aslik, silahkan menghubungi saya - Charles Roring - via email: peace4wp@gmail.com
Edisi bahasa Inggris dari artikel ini: Eucalyptus Deglupta in the Table Mountain of Manokwari Papua
Manokwari Map | Where is Manokwari? | Souvenir Shops | Travel Attractions | Accommodation in Manokwari | Professional Guide
Travel Guide Manokwari
The following articles are my recommendation, stories and experience when guiding foreign tourists who come to Manokwari of West Papua to enjoy the beauty of its natural scenery and the hospitality of the indigenous people. This website is aimed at promoting eco-tourism in the region to create jobs among the indigenous people and awareness among us about the importance of protecting and preserving tropical rainforest that is now facing extinction due to rapid deforestation.
Happy Traveling
Charles Roring (click to e-mail me)
Tourist Guide
If you want to read more stories about travel in Manokwari of West Papua, you can see my other blogs at the following addresses:
Papuan Art and Culture Stories
My personal diary on Manokwari Eco-tourism activities